Sejarah dan Perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia

Sejarah dan Perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia

Hari Raya Waisak merupakan perayaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat beragama Buddha sejak dahulu atau sekitar sebelum abad ke-19. Hal ini juga membuat sebagian besar orang penasaran pada sejarah yang ada sebelum perayaan ini selalu diperingati sampai sekarang.

Sejarah Hari Raya Waisak di Indonesia

Hari ini pada tanggal 16 Mei 2022, menjadi salah satu tanggal perayaan untuk umat Buddha yaitu Waisak. Pasti Anda sudah sering mendengar kata Tri Suci Waisak, sebenarnya kata ini memiliki arti adanya 3 peristiwa penting dalam hari Waisak.

Berikut 3 peristiwa yang menjadi asal usul penyebutan kata Tri Suci Waisak pada perayaan Hari Raya Waisak beserta penjelasan lengkapnya yang perlu Anda ketahui.

1. Kelahiran Pangeran Siddharta

Peristiwa pertama adalah lahirnya seorang pangeran atau putra dari Suddhodana dan Mahamaya pada tahun 623 sebelum Masehi. Pangeran ini bernama Pangeran Siddharta yang merupakan seorang pangeran yang akan menjadi Bodhisattva.

2. Siddharta Mencapai Penerangan Agung

Kemudian pada peristiwa kedua, pada usianya yang ke 29 Pangeran Siddharta mencari kebebasan dan mencapai Penerangan Agung. Sampai akhirnya mendapatkan gelar sebagai Buddha pada tahun 588 sebelum Masehi, tepatnya saat bulan Waisak.

3. Pencapaian Parinibbana

Peristiwa terakhir adalah pada saat Sang Buddha wafat pada usia 80 tahun, atau tepatnya saat mencapai Parinibbana pada tahun 543 sebelum Masehi. Ketiga peristiwa inilah yang menjadi dasar dari perayaan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha.

BACA JUGA:  fakta unik sang pawang hujan, agamanya bikin heran !

Hal sejarah semacam ini perlu Anda ketahui sebagai bahan ilmu. Lagipula Anda juga bisa belajar banyak dari sejarah agama masing-masing dan saling menghormati.

Karena itulah banyak yang mengucapkan selamat Hari Raya Waisak dan juga ada yang menerima ucapan. Hal seperti inilah yang perlu negara Indonesia kembangkan sebagai simbol Bhineka Tunggal Ika.

Perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia

Umat Buddha Indonesia biasanya merayakan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Terdapat banyak sekali hal yang perlu dilakukan dan menjadi ritual khusus bagi umat Buddha itu sendiri walaupun dulunya Candi Borobudur sempat tidak berfungsi selama beberapa waktu.

Namun sekarang sudah lebih banyak umat Buddha yang merayakannya pada vihara yang dekat dengan tempat tinggal. Jadi tidak perlu jauh-jauh sampai ke Candi Borobudur jika tempat tinggalnya berada sangat jauh atau berbeda kota.

Biasanya dalam perayaan akan ada sejumlah Biksu yang membawa air suci dari kawasan dekat lereng Gunung Sindoro. Tepatnya pada Umbul Jumprit, Ngadirejo, Temanggung dengan tujuan air itu bisa bersemayam bersama api abadi Candi Mendut. 

Setelah itu lanjut diarak ke Candi Borobudur yang berada pada puncak perayaan Hari Raya Waisak. Walaupun sekarang perayaan ini sudah bisa dan lebih baik dari vihara terdekat sejak adanya Covid-19 agar menjadi lebih aman dari penyakit.

Intinya adalah perayaan ini akan dimulai dengan pengambilan air dari sumber mata air di Temanggung tadi. Kemudian lanjut menyalakan obor untuk simbol atau sumber api abadi yang akan ada pada daerah Grobogan. 

Selanjutnya, akan ada ritual Pindapatta yaitu sebuah ritual yang memberikan makanan kepada para Biksu sebagai simbol melakukan sebuah kebaikan. Lalu ada juga perayaan dengan melakukan Samadhi pada saat bulan purnama. 

BACA JUGA:  biodata im kamaludin si bocah buronan internasional

Terakhir adalah perayaan Hari Raya Waisak dengan menentukan bulan purnama berdasarkan pada cara perhitungan Falak. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan jatuh pada waktu siang hari walaupun bulan lebih jelas pada malam hari.